Jumat, 06 April 2012

Selamat Jalan Romo KH.R. Ahmad Fawaid As'ad


K.H.R. AHMAD FAIWAID AS'AD
Situbondo - Puluhan ribu pelayat dan santri mengantar Almarhum KHR. Ahmad Fawaid As'ad ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kiai Fawaid dimakamkan disebelah makam ayahandanya KHR As'ad Syamsul Arifin dan Kakeknya KHR. Syamsul Arifin.

"Makam Kiai Fawaid berada persis di bawah kaki makam abahnya dan bersebelahan dengan makam Hj Zainiyah As'ad (kakak almarhum). Itu hasil rapat keluarga dan wakil pengasuh ponpes," tutur H.A Muhiyiddin Khatib, salah satu orang dekat keluarga almarhum KHR. Ach. Fawaid As’ad.

Jenazah almarhum KHR Fawaid As'ad dimakamkan sekitar pukul 19.40 WIB, di belakang Masjid Jamik Ibrahimy, Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo Asembagus.

Suasana histeris mengiringi proses pemakaman cucu KHR Syamsul Arifin itu. Sepanjang perjalanan dari rumah duka menuju Masjid Jamik Ibrahimy, mobil ambulance yang mengangkut jenazah terus dikerumuni ribuan pelayat.

Sembari terus mengumandangkan tahlil, sebagian pelayat memanggil-manggil nama Kiai Fawaid dengan histeris. Diantaranya juga melambaikan tangan saat mobil ambulance melintas.

Begitu tiba di Masjid Jamik Ibrahimy, jenazah langsung disalatkan dengan imam KH A Zuhri Zaini dari Paiton Probolinggp. Tampak ikut dalam jamaah salat janazah, adik kandung Kiai Fawaid yakni Romo KHR. Muhammad Kholil As'ad dan Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah.

Selain itu, sederet ulama dari berbagai daerah di Jawa Timur juga ikut hadir, di antaranya KH Muhyiddin Abdus Somad (Jember), KH Malik Sanusi dan KH Salwa Arifin (Bondowoso), dan KH A Dailami Ahmad (Banyuwangi).

Salat janazah diikuti oleh puluhan ribu jamaah hingga Masjid Jamik Ibrohimy yang berkapasitas 15 ribu orang itu tidak mampu menampung. Sehingga sebagian jamaah tumpah ke pelataran dan halaman masjid. Bahkan mereka juga tak beranjak saat hujan deras mengguyur lingkungan ponpes Sukorejo.

Pesan terakhir Kiai Fawaid kepada KH Syarifudin Damanhuri. "Beliau masih sempat bicara kepada saya nitip Santri, nitip pesantren dan nitip Alumni. Saat itu beliau terlihat susah bernafas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar